Donasi di Peduly bisa mulai Rp100 rupiah lho!

Ada Apa dengan Sekolah Inklusi?

“Inclusive education is about embracing all, making a commitment to do whatever it takes to provide each student in the community—and each citizen in a democracy—an inalienable right to belong, not to be excluded. Inclusion assumes that living and learning together is a better way that benefits everyone, not just children who are labeled as having a difference.”

Falvey, Givner & Kimm, 1995, p.8

Sobat Peduly, selama bertahun-tahun terakhir masyarakat global menaruh perhatian lebih pada penjaminan hak asasi manusia di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Hal ini salah satunya diwujudkan dalam sebuah sistem pendidikan yang menerapkan bahwa semua anak dapat memperoleh pendidikan yang bermutu. Dengan kata lain terdapat perlakuan yang sama dengan tidak membanding-bandingkan antara satu dengan yang lain. Sistem pendidikan ini dikenal dengan pendidikan inklusi. Dalam konteks ini kemudian anak berkebutuhan khusus (ABK) pun mendapatkan kesempatan yang sama. Penerapan sistem pendidikan ini tentu mendorong adanya sekolah-sekolah inklusi di masyarakat. Yuk, cek fakta-fakta mengenai sekolah inklusi berikut!

  • Ide awal sekolah inklusi tidak terlepas dari perkembangan sejarah Sekolah Luar Biasa (SLB). Pada saat abad ke 15 dulu, di Inggris tumbuh sebuah paradigma bahwa anak yang cacat itu dianggap dosa dan harus dibunuh. Karena jumlahnya yang semakin banyak, Inggris mendirikan sebuah asrama untuk memberikan akses kepada anak-anak berkebutuhan khusus tersebut dalam memperoleh pendidikan.
  • Di Indonesia, pendidikan dijamin dalam UUD 1945 pasal 32 ayat (1) bahwa “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Ide pendidikan inklusi merupakan jalan terang untuk melepaskan diri dari sistem SLB yang dianggap diskriminatif. Sekolah yang ditunjuk pemerintah sebagai sekolah inklusi memberikan kesempatan para anak berkebutuhan khusus untuk belajar dalam suasana yang ‘normal’ bersama dengan teman-teman yang lain. Jadi, program pendidikan ini dapat dilakukan di sekolah negeri ataupun swasta.
  • Adanya sekolah inklusi bukan hanya memberikan dukungan fisiologis dari segi sarana-prasarana yang memungkinkan kegiatan belajar berlangsung dengan nyaman, melainkan juga memunculkan adanya dukungan moral. Anak-anak berkebutuhan khusus bisa bertemu, bermain, dan belajar bersama teman-teman sebayanya yang lain dan tidak kehilangan momen keceriaan di bangku sekolah.
  • Sekolah inklusi dan segala pihak di dalamnya tentu harus menyambut hangat anak berkebutuhan khusus terlepas dari kemampuan dan kebutuhan personalnya. Hal ini menjadi alternatif pembelajaran yng cukup efektif untuk menanamkan nilai-nilai saling menghormati dan menghargai. Tentunya semangat tolong-menolong dan membantu sesama juga perlu dibangun untuk memunculkan sineergi dalam aktivitas pembelajaran dan kegiatan sekolah lainnya. Jadi Sobat Peduly, tak perlu khawatir lagi yaa.. Negara kita merupakan negara indah yang terbuka untuk semua. Salam kebaikan!
Sintya Chalifia Azizah
Menulis merupakan langkah untuk merendahkan hati agar tidak bengis, menyisakan kebenaran entah dengan menangis atau meringis, dan secercah wujud kepedulian yang empiris.