Donasi di Peduly bisa mulai Rp100 rupiah lho!

Kejahatan Genosida Rohingya

Source pict: pulitzercenter.org
Source pict: https://pulitzercenter.org/projects/persecuted-not-silenced-rohingya-voices-and-art-tarana

Source pict: pulitzercenter.org

Apakah kamu tahu arti dari kejahatan Genosida? Hal itu sebenarnya berarti sebuah usaha untuk memusnahkan suatu etnis oleh satu pihak. Hal tersebut termasuk tindak kejahatan yang tidak manusiawi karena semua hak korbannya pun direnggut. Tahukah kamu bahwa di dunia ini masih banyak tindak kejahatan genosida yang masih eksis? Salah satunya adalah kejahatan genosida yang terjadi di Myanmar terhadap etnis rohingya.

Ada banyak asumsi dari masyarakat yang berkata bahwa isu Rohingya berlandaskan agama. Namun ternyata permasalahan yang ada pun cenderung lebih kompleks dan gak sesimpel itu.

Pada mulanya, hal yang menyebabkan mereka didiskriminasi adalah karena berkonflik dengan etnis Rakhine. Banyak orang yang berpendapat bahwa konflik tersebut berlandaskan permasalahan agama namun pada kenyataannya sungguh kompleks. Terjadinya konflik tersebut adalah karena masalah ketidaksukaan masyarakat Rakhine terhadap Rohingya sebab mereka merasa tersaingi dalam berbagai aspek. Dapat dikatakan bahwa permasalahan utamanya adalah karena aspek ekonomis dan politis. Hal tersebut membuat masyarakat Rohingya diasingkan dalam camp pengungsian yang kumuh, serta tidak diberi akses kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Hal itu disebabkan karena pemerintah yang cenderung lebih condong kepada etnis Rakhine sehingga bahwa rohingya bukan lagi bagian dari Myanmar.

Etnis Rohingya banyak direnggut haknya sebagai warga negara secara sistematis oleh aktor negara maupun non-negara. Ada beberapa tokoh besar non-negara yang berusaha mengkonstruksi pemikiran masayarakat untuk membenci kaum muslim, khususnya Rohinya. Salah satu contohnya adalah pemimpin Agama Buddha di sana yaitu Ashin Wirathu yang menyebarkan informasi-informasi terkait keburukan dari masyarakat muslim. Perilakunya tersebut membuat banyak oknum-oknum yang mewakili masyarakat muslim pun geram, yaitu contohnya adalah ISIS dan ekstrimis islam lainnya. Dengan adanya pengaruh seperti itu, sebagian besar penduduk Myanmar pun cenderung Anti-Islam.

Selain aktor perseorangan, kebanyakan dari masyarakat etnis Rohingya mendapat perlakuan tidak manusiawi, yaitu menjadi korban human trafficking. Praktik perdagangan manusia itu sendiri dilakukan dengan cara menculik orang-orang di camp dan dibawa ke kapal dengan tujuan untuk mendapatkan tebusan dari pihak keluarga. Para oknum penculik meminta tebusan dengan range harga sekitar USD 400 — USD 1800. Jika tidak tebusan, maka para korban penculikan tersebut pun disiksa. Di sisi lain, para sindikat human trafficking tersebut menjual korbannya kepada perusahaan yang membutuhkan budak buruh. Para sindikat itu bekerja sama dengan pemerintah setempat agar aktivitas perdagangannya pun aman. Ada tiga negara yang diduga mengambil keuntungan pada praktik perdagangan manusia ini yaitu otoritas Thailand, Malaysia, dan Myanmar itu sendiri.

PBB sebagai organisasi yang harusnya memperjuangkan hak-hak kaum-kaum tertindas pun hanya berdiam saja. Memang ada narasi PBB yang mengatakan bahwa mereka berusaha menyelesaikan kasus ethnic cleansing. Namun pada kenyataannya mereka main aman dan menjaga hubungan baik dengan pemerintah Myanmar. Banyak denial yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar terkait realita kesengsaraan etnis Rohingya. Pemerintah juga menolak diadakannya investigasi secara mendalam oleh NGO-NGO pejuang hak-hak kemanusiaan pasca ethnic cleansing yang dilakukan beberapa tahun silam. Hingga kini permasalahan tersebut tak menemui titik terang karena tidak adanya mediator yang seharusnya dari pihak pemerintah maupun NGO seperti PBB yang memiliki power.

Dari tulisan di atas dapat disimuplkan bahwa segala bentuk kejahatan yang merenggut hak manusia lainnya sangatlah dilarang. Cobalah belajar untuk memanusiakan-manusia karena setiap orang memiliki hak untuk hidup tanpa embel-embel disiksa!

(Source: Film Dokumenter: “Left for Dead: Nestapa Minoritas Muslim Myanmar” Produced by Vice)