Donasi di Peduly bisa mulai Rp100 rupiah lho!

Kisah Para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Ini Benar-Benar Membuat Bangga. Siapa Saja Mereka? Ini Dia!

Anak-anak didik ini patut bangga karena memiliki guru berhati tulus

Siapa yang tidak mengenal istilah ‘pahlawan tanpa tanda jasa’? Ya, guru merupakan seorang pahlawan yang benar-benar siap sedia berkorban demi membuat putra putri Indonesia menjadi insan yang cerdas. Bukan hanya itu, ada satu hal menarik disini, para pahlawan tanpa tanda jasa ini rela jauh-jauh meninggalkan kampung halamannya demi mengajar di tempat yang terpencil.

Keterbatasan fasilitas pendidikan, kurangnya akses, dan mungkin gaji yang diterima tidak sesuai tak menjadikan para guru ini berputus ada dalam menyampaikan ilmu yang dimilikinya. Tak banyak para guru yang bersedia mengabdi di sekolah yang benar-benar dalam kondisi yang terbatas. Maka dari itu, hanya guru yang istimewa-lah yang bersedia mengabdikan dirinya di tengah keterbatasan.

1. Karyati Vederubun

Kisah Karyati benar-benar patut di apresiasi, pasalnya, ia rela dan ikhlas meluangkan waktunya untuk mengajar dengan energi ekstra. Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan 9 jam demi bisa mengajar para muridnya. Dilansir dari Bangsaonline.com, Karyati mengajar di Desa Atiahu, Dusun Balakeu, Kecamatan Siwalalat, Maluku. Selain waktu tempuh yang jauh, perjuangan lain yang juga dilakoninya adalah harus naik ojek ke persimpangan jalan lalu melewati sungai dan hutan setiap harinya.

Karyati adalah seorang guru PNS yang telah mengabdi selama 3 tahun (pada tahun 2015). Ia mengabdi di Desa Atiahu selama 6 hari dan dalam waktu 6 hari tersebut, karyati diperkenankan tinggal di rumah warga yang berada di Kecamatan Siwalalat, Kabupaten Seram Timur, Maluku. Menurut penuturannya, selama ia perjalanan dari rumah ia sering kali meminum air sungai dan memakan dedaunan yang bisa dimakan karena kurangnya persediaan makanan.

Mengajar memang bisa dibilang sulit, apalagi akses jalan yang kurang memadai. Tapi bagi Karyati, semua itu harus dilalui dengan sepenuh hati
Sumber: google image

2. Rosalina Pasumbungan

Perempuan hebat yang satu ini adalah guru honorer yang mengajar di sekolah dasar Negeri 573 Pabbatang, Desa Posi, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Berdasarkan informasi melalui web tribunnews.com, Rosalina menempuh jarak 2 kilometer dengan berjalan kaki menggunakan sandal jepit dikarenakan kondisi jalan yang tidak memungkinkan memakai alas kaki selain sandal jepit. Perjuangan keras Rosalina untuk berbagi ilmu ini mendapatkan reward sebesar 900ribu setiap triwulan atau 300ribu setiap bulan.

Meskipun gaji yang ia terima kecil, dan dapat dikatakan tidak sebanding dengan apa yang ia berikan, namun ia tetap dengan suka hati berbagi ilmu dengan anak-anak di Desa Posi tersebut. Setiap kali perjalanan pulang dan pergi ke sekolah, Rosalina ditemani oleh murid-muridnya melewati jalanan berlumpur dan berkerikil. Sesampainya di sekolah, ia kemudian mengajar 21 anak yang ada dalam 1 ruangan. Ya, satu sekolah hanya ada satu ruangan.

Perjuangan berat Rosalina mungkin ingin melihat para muridnya menjadi kebanggaan negara esok hari
Sumber: pexels.com

3. Didi Supriyadi

Perjuangan Didi Supriyadi mengabdikan dirinya di desa terpencil yang terletak di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten ini sungguh perjuangan yang tidak mudah. Dilansir merdeka.com, Supriyadi setiap harinya selalu penuh semangat menuju sekolah dengan waktu tempuh 1,5 jam dengan menggunakan motor. Jarak yang di tempuh supriadi termasuk jauh yaitu 60 kilometer.

Supriadi termasuk guru yang sabar karena setiap harinya ia harus menuju sekolah SDN 2 Sobang di kawasan Hutan Konservasi Nasional Gunung Halimun dan Salak (TNGHS). Kawasan tersebut memang rawan terkena banjir ketika musim penghujan.

Senyum merekah anak-anak didik membuat Supriyadi tetap semangat mengajar walaupun dengan akses yang sulit
Sumber: google image

4. Sujono

Sujono merupakan seorang guru yang rela mengajar berpuluh-puluh tahun di desa terpecil yaitu di SDN Kedungpeluk 2, Dukuh Bangoan, Desa Kedungpeluk, Candi. Dilansir JawaPos.com, pria berusia 57 tahun tersebut adalah sosok yang ramah dan meskipun usianya sudah senja, Sujono tampak terlihat bugar.

Setiap harinya, Sujono mengajar di sekolah yang berada di tengah tambak dengan senang hati. Jarak sekolah dengan pusat kota dapat dikatakan jauh kira-kira 22 kilometer. Akses menuju ke sekolah adalah jalur darat dengan akses yang sulit. Dari dulu hingga sekarang, Sujono tetap mampu bertahan untuk mengajar di daerah tersebut. Pada waktu pertama kali menjadi guru, ia masih ingat betul bahwa keadaan jalan pada saat itu jelek dan berlumpur. Ia mengakui bahwa pada saat ini kondisi sekolah lebih layak dibandingkan pada tahun 1987. Bahkan sebelum ada listrik, ia beserta warga setempat memanfaatkan genset.

Sujono mengaku bahwa ia pernah dijanjikan oleh pemerintah setempat bahwa ia akan dipindah tugas mengajar ke kota setelah 5 tahun. Namun ketika Sujono menagih janji, tetap saja tidak ada tanggapan. Sujono dengan ketulusan rela mengabdikan dirinya untuk membina anak-anak di kampung tersebut.

Sujono setia mengabdi untuk negeri
Sumber: google image

5. Sigit Arifianto

Kali ini yaitu kisah tentang seorang guru yang pernah mengajar di pedalaman Papua selama 15 bulan. Ia adalah Sigit Arifianto. Ia menceritakan pengalamannya melalui instagram pribadinya. Dilansir intisarionline.com, ketika ia tinggal di Papua, terjadi gizi buruk di suku Asmat. Menurutnya, gizi buruk disana terjadi karena kesehatan yang buruk, kemiskinan, dan pendidikan rendah.

Ia menuturkan, apabila ingin mengabdi di sana haruslah dengan hati yang tulus dan ikhlas. Para pengabdi harus siap dengan segala keterbatasan yang ada seperti tidak ada sinyal dan akses yang sulit. Pengalamannya ketika akan menginjakkan kaki di tanah Papua, ia harus melewati bukit, lembah, rawa-rawa yang tentu saja itu tidak mudah.

Ketika ia mengajar disana, ia juga kesulitan untuk mengakses air bersih dan sebagian besar warga disana mengandalkan air hujan untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari. Ia menuturkan bahwa ketika tidak diawali dengan niat yang kuat, para pengabdi akan tidak betah dan merasa ingin cepat pulang.

Sigit Arifianto sungguh memiliki semangat kuat dan tahan banting
Sumber: google image

Itulah 5 pahlawan tanpa tanda jasa yang jasanya tidak bisa ditukar dengan apapun. Guru-guru tersebut sungguh memiliki hati yang lapang dan tanpa pamrih untuk memajukan pendidikan yang ada di Indonesia ini.

Cindi Claudia
Saya merupakan manusia biasa seperti Anda semua. Walaupun biasa, saya terus berusaha untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain. Salah satunya menjadi bagian dari Peduly.com yang berusaha membantu orang-orang yang kurang beruntung dan membutuhkan uluran tangan dari kita.