Donasi di Peduly bisa mulai Rp100 rupiah lho!

Patut Diapresiasi, Ini Dia 3 Pemuda Sukses Yang Memulai Hidupnya Dari Panti Asuhan

Masa kanak-kanak adalah masa paling indah dalam hidup,tanpa beban dan bermain adalah rutinitas wajib yang hampir kita lakukan  setiap hari. Dalam masa-masa seperti ini, hangatnya kasih sayang orang tua menjadi poin utama pembentukan kepribadian anak. Namun apa jadinya jika masa kecil kita tidak bisa mendapatkan kasih sayang itu sepenuhnya?. Hal inilah yang sering dirasakan teman-teman kita yang mengabadikan setiap momen masa kecilnya di panti asuhan. Anak-anak yang besar di lingkungan panti asuhan sering diberi label negatif bahwa mereka adalah anak terlantar yang tidak dipedulikan kedua orang tuanya. Anak panti asuhan sering diberi stigma negatif bahwa mereka adalah anak miskin dan kurang pintar dari segi pengetahuan. Padahal, tidak sepenuhnya stigma-stigma negatif itu benar. Ini dia 4 pemuda sukses yang memulai hidupnya dari panti asuhan.

  • Sunanto

Pria yang kerap disapa Cak Nanto ini baru saja terpilih sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah periode 2018-2022. Lahir dari keluarga petani, tidak membuatnya putus semangat untuk terus belajar, terutama dibidang keislaman. Sejak kecil, Sunanto sudah tinggal di Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep dan mempelajari dan memperdalam ilmu agama secara detail. Selepas pendidikannya di SMA Muhammadiyah Sumenep, Sunanto akhirnya melanjutkan pendidikannya di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Saat menjadi mahasiswa pun, Sunanto aktif di berbagai organisasi seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). Jiwa kepempinan yang sudah terasah inilah yang akhirnya membawanya sampai menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah periode 2018-2022.

  • Akhmad Mundhol

Seorang Direktur Utama Bank Perkreditan Rakyat Badan Kredit Kecamatan ( BPR BKK) Kendal, Jawa Tengah memulai hidupnya di panti asuhan sejak umur 2 tahun. Kurangnya kemampuan dari sisi ekonomi menjadi pemicu utama mengapa Mundholin tinggal di panti asuhan. Setelah ditinggal oleh ayahnya, Mundholin mempiliki tekad untuk merubah kehidupannya. Perjuangan Mundholin untuk sampai ke titik kesuksesannya memang membutuhkan mental yang kuat untuk menopang beban hidup yang berat. Mulai dari berjalan kaki sejauh 14 kilometer setiap hari untuk sampai ke sekolah, berpindah-pindah panti asuhan dan menjadi petugas desa. Semua perjuangan Mundholin yang melelahkan akhirnya terbayarkan saat ia bisa melanjutkan studinya di perguruan tinggi dan menjadi
Direktur Utama Bank Perkreditan Rakyat Badan Kredit Kecamatan ( BPR BKK) Kendal.

  • Isbandi Prasetio

Ilustrator kreatif yang memulai hidupnya dari panti asuhan ini memiliki cerita haru dan perjuangan yang luar biasa. Saat masih duduk di banngku SMP, ibu Bandi meninggal dunia. Sejak saat itu, Bandi mulai patah semangat untuk melanjutkan pendidikannya dan memilih untuk fokus membiayai sekolah kedua adiknya yang masih duudk di bangku SD dan SMP. Kerabat dekat Bandi tidak memperbolehkannya jika harus putus sekolah. Bandi boleh membantu biaya sekolah kedua adiknya, dengan syarat harus tinggal di Panti Asuhan Darul Farroh. Pasca lulus dari Madrasah Aliyah, Bandi juga berjulan wayang golek bersama teman-teman nya. Selama proses berjualan golek, Bandi kembali ditinggal oleh orang yang ia sayang, yaitu ayah nya. Usai meratapi kesedihan  akan  kehilangan ayahnya, kesempatan emas kembali mendatangi Bandi. Ia mendapat beasiswa di Politeknik Bersama Tegal dan mengambil program studi Desain Komunikasi Visual (DKV). Setelah mendapat ilmu dari DKV, Bandi mulai membuka peluang usaha sebagai freelancer foto vector yang sampai saat ini sering mendapat pesanan foto vector. Bandi juga mempunyai mimpi ingin memiliki gerai atau galeri yang berisi karya-karya vector nya.