Donasi di Peduly bisa mulai Rp100 rupiah lho!

Penuh Kasih dan Cinta, Strategi Orang Tua Membesarkan Anak Autis

Autisme merupakan gangguan perkembangan otak yang berawal sejak masa kanak-kanak. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Menjadi orang tua yang mengasuh dan membesarkan anak penyandang autisme tentu tidak mudah. Perlu cinta yang begitu besar dan juga perhatian serta kesabaran untuk memastikan bahwa anak-anak ini dapat berkembang sebagaiman mestinya. Berikut langkah-langkah yang bisa diikuti untuk merawat dan menghadapi anak autis:

  • Perkaya Diri dengan Berbagai Informasi

Jika kamu adalah orang yang peduli maupun berperan sebagai orang tua, pastikan untuk selalu up to date dengan mencari dan mempelajari informasi berkaitan dengan autisme. Gejala autisme sendiri dapat diketahui sejak dalan kandungan, namun dalam beberapa kasus, autisme dapat terlihat ketika memasuki usia dua sampai tiga tahun. Informasi yang kamu dapatkan bukan hanya membuatmu mampu mengambil sikap dalam menghadapi anak-anak autis, tetapi juga mendorong ide-ide kreatif untuk melakukan terapi sederhana yang menyenangkan bagi anak.

  • Menggali Bakat dan Potensi Anak

Di Indonesia sendiri, tidak jarang anak penyandang autisme dipandang sebelah mata. Pada awalnya, bahkan beberapa orang tua mencoba menyembunyikan kondisi anaknya sendiri. Namun, hal tersebut tidak tepat dilakukan. Sebagai orang terdekat, kamu perlu mencari ketertarikan dari anak ini,karena mereka akan fokus terhadap apa yang menarik atensinya. Ketertarikan inilah yang menjadi dasar potensi untuk dikembangkan lebih lanjut, sehingga anak menjadi lebih percaya diir dan tidak menutup kemungkinan untuk berprestasi di antara yang lain.

  • Mengenalkan Jadwal Terstruktur dan Terencana

Anak autis cenderung membutuhkan kondisi yang familiar. Dengan  kata lain, melakukan hal yang beruang secara konsisten akan mendorong pembelajaran anak. Oleh karena itu, ada baiknya juka membuat jadwal harian secara mendetail apa saja yang perlu dilakukan dan kapan hingga mejadi rutinitas. Dengan demikian, anak akan lebih muda mengenal dan mengingat informasi yang dia dapatkan.

  • Memaksimalkan Bahasa Non-Verbal

Dalam beberapa kondisi tertentu, kamu tidak perlu menggunakan kata-kata untuk membuat anak autis mengerti. Kenalkan dan biasakan berbagai bahasa isyarat maupun tubuh kepada anak-anak agar mereka dapat memahami. Mulai dari cara menatap, menyentuh, nada suara, hingga gerakan tubuh lawan bicara. Sebaliknya juga, kamu harus mengamati dan jeli terhadap perubahan-perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh anak autis. Dengan begitu komunikasi intens di antara orang tua dan anak tetap dapat terjalin.

Sintya Chalifia Azizah
Menulis merupakan langkah untuk merendahkan hati agar tidak bengis, menyisakan kebenaran entah dengan menangis atau meringis, dan secercah wujud kepedulian yang empiris.