Donasi di Peduly bisa mulai Rp100 rupiah lho!

Satu Langkah Lebih Dekat Mengintip Cerebral Palsy

Beberapa waktu terakhir publik diramaikan dengan kisah yang viral di media sosial berkaitan dengan meninggalnya seorang anak di China setelah ayah dan kakaknya menjalani karantina karena diduga terinfeksi virus Corona terbaru (2019-nCov). Ditelusuri lebih lanjut anak tersebut merupakan penderita Cerebral Palsy. Nah untuk mengetahui lebih lanjut informasi berkaitan dengan Cerebral Palsy, yuk simak ulasan berikut!

Apa itu Cerebral Palsy?

Cerebral Palsy merupakan gangguan gerakan, otot, atau postur tubuh yang disebabkan karena cedera atau perkembangan abnormal pada otak. Kondisi ini paling sering terjadi sebelum kelahiran, namun seorang anak dapat pula mengalaminya setelah dilahirkan. Pada umumnya, gejala baru terdeteksi pada saat bayi berusia satu atau dua tahun. Penderita Cerebral Palsy dapat diikuti dengan permasalahan lain seperti gemetar (tremor), tubuh kaku, otot lemas, dan koordinasi tubuh yang tidak seperti seharusnya.

Apa yang Menyebabkan Cerebral Palsy?

Penyebab utama berkaitan dengan  cedera otak atau permasalahan selama masa kehamilan atau hingga usia anak mencapai 3 tahun. Beberapa di antaranya: Lahir dalam kondisi prematur, cedera di kepala atau mengalami infeksi yang serius, tidak tercukupinya darah, oksigen, dan nutrisi lain saat kehamilan, atau bahkan faktor genetik.

Apa Saja Gejala dari Cerebral Palsy?

Gejala yang muncul meliputi beberapa hal berikut:

  • Berkaitan dengan gerakan dapat diamati melalui: Kedulitan melakukan gerakan, kecenderungan menggunakan tubuh hanya satu sisi, gaya berjalan tidak normal, gerakan lambat, kurangnya koordinasi gerakan tubuh.
  • Ditandai juga dengan kesuitan menelan, menghisap, dan merespon. Pada usia yang lebih besar dapat ditandai dengan gangguan kecerdasan dan juga bicara.
  • Selain itu otot kaku atau lunglai, dan mengalami tremor serta kejang

Apa yang Perlu Dilakukan untuk Mencegah Cerebral Palsy?

Upaya pencegahan tidak lepas dari peran serta orang tua terhadap anak-anaknya. Hal ini bisa dilakukan dengan menjauhkan diri dari orang-orag dengan penyakit menular serius, mencegah kecelakaan dengan selalu berhati-hati, manjaga nutrisi selama masa kehamilan dan mencegah adanya keracunan, serta memastikan bahwa anak memperoleh imunisasi yang lengkap dan tepat waktu.

Sintya Chalifia Azizah
Menulis merupakan langkah untuk merendahkan hati agar tidak bengis, menyisakan kebenaran entah dengan menangis atau meringis, dan secercah wujud kepedulian yang empiris.