Donasi di Peduly bisa mulai Rp100 rupiah lho!

Wajah Berbeda pada Formasi Staf Khusus Presiden 2019

Pada Kamis (21/11) lalu, Presiden Joko Widodo menghebohkan publik dengan mengumumkan tujuh nama staf khusus presiden yang berasal dari kalangan millennials. Di satu sisi, pengangkatan ini menjadi tonggak bagaimana kontribusi generasi muda untuk turut menyumbangkan ide serta pemikiran kreatifnya untuk kemajuan bangsa dan negara. Meskipun kemudian terdapat beberapa kritik yang menyayangkan bahwa staf khusus ini menjadi agenda menghamburkan uang negara.

Namun terlepas dari pro-kontra tersebut, nama-nama yang diangkat memiliki latar belakang yang luar biasa, di antaranya: Putri Indahsari Tanjung (CEO Creativepreneur), Adamas Belva Syah Devara (Pendiri Ruangguru), Ayu Kartika Dewi (Perumus Gerakan Sabang Merauke), Gracia Billy Mambrasar (Pendiri Yayasan Kitong Bisa), Aminuddin Ma’ruf (Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Indonesia), Andi Taufan Garuda Putra (CEO PT Amartha Mikro Fintech), dan Angkie Yudistia (Pendiri ThisAble Enterprise).

Hadirnya Angkie Yudistia menunjukkan adanya semangat baru apabila penyandnag disabilitas dapat memerankan profesi yang lebih besar yakni sebagai staf khusus presiden. Perempuan kelahiran 1987 ini menjadi penyandang tunarungu sejak usia 10 tahun. Hal tersebut tentu tidak mudah dimana masa remajanya sering dilalui dengan tidak percaya diri. Namun dengan penuh dukungan dan keyakinan bahwa disabilitas bukanlah batas, Angkie belajar untuk menerima kekurangan tersebut dan berproses untuk menjadi pribadi yang percaya terhadap diri sendiri.

Pada tahun 2008, Angkie menjadi salah satu finalis Abag None Jakarta. Ia juga pernah didapuk sebagai “The Most Fearless Female Cosmopolitan” pada tahun yang sama. Berawal dari keprihatinannya terhadap kaum disabilitas yang susah mendaatkan pekerjaan, Angkie mulai mendirikan ThisAble Enterprise. Melalui hal ini, Angkie mendukung dan memberdayakan teman-teman dengan segala keterbatasan untuk mampu membuat suatu produk. Bahkan, Angkie berhasil menjalin kerjasama dengan Gojek Indonesia untuk memperkerjakan orang-orang dengan disabilitas pada layanan Go-Auto dan Go-Glam.

Dengan segala pencapaiannya, Angkie kini mengembang tanggung jawab yang lebih besar untuk menyampaikan suara penyandang disabilitas yang ada di Indonesia. Ini merupakan langkah awal untuk mulai menghilangkan label stereotipe negatif dan minoritas yang disematkan pada kaum disabilitas selama ini. Lingkungan yang inklusif menjadi faktor utama dimana disabilitas tak lagi dipandang sebelah mata. Terlebih lagi melalui sosok Angkie Yudistia, seolah menegaskan bila: Disabilitas. Juga. Bisa.

Sintya Chalifia Azizah
Menulis merupakan langkah untuk merendahkan hati agar tidak bengis, menyisakan kebenaran entah dengan menangis atau meringis, dan secercah wujud kepedulian yang empiris.